TUGAS
KULIAH
Resume Buku:
“STUDI
PEMIKIRAN K.H. AHMAD DAHLAN”
Karangan:
Asrori
Mukhtarom, S.H., M.A
dan
Milana Abdillah, S.Pd.I., M.A.
dan
Milana Abdillah, S.Pd.I., M.A.
Nama : Hj. Linda Sari Lintang
NIM : 13149211164
Semester : IV
Kelas ; B
Prodi : PAI 2015
UNIVERSITAS
MUHAMMADIYAH TANGERANG
TAHUN
AKADEMI/ 2015
BAB I
SEJARAH PEMBAHARUAN ISLAM
A.
Pengertian Pembaharuan
Secara etimologi (bahasa) berarti proses, perbuatan, cara
memperbarui, proses mengembangkan adat istiadat, metode preduksi atau cara
hidup baru yang juga identik dengan istilah modernisasi. Dalam bahasa
Arab modernisasi diterjemahkan menjadi tajdid atau islah
(memperbaiki) dan juga reformasi (menyususn kembali) sehingga pembaharuan
disebut juga gerakan tajdid, gerakan islah maupun gerakan reformasi.
Modernisasi (pembaharuan) juga berarti “proses penggeseran sikap dan
mentalitas sebagai warga masyarakat untuk bisa hidup sesuai dengan tutunan hidup masa kini”
Tujuan
pembaharuan dalam Islam: Untuk merubah ajaran-ajaran Islam yang tidak bersifat
mutlak (penafsiran/interpretasi dari ajaran-ajaran yang bersifat mutlak) yang
mencakup aspek-aspek diantaranya: teologi, hukum, politik, lembaga-lembaga dan
seterusmya.
Pembaharuan
yang dianjurkan dalam Islam bukanlah Westernisasi
dalam arti pembaratan dalam cara pikir, bertingkah laku dan sebagainya yang
bertentangan dengan ajaran Islam, akan tetapi pemikiran terhadap agama yang
harus diperbaharui dan direformasi, pemikiran modern yang menimbulkan reformasi
dalam agama, dan hal ini tidaklah mungkin timbul dari pola pikir yang sempit. Penambahan ilmu
pengetahuan akan memperluas pandangan terhadap keseluruhan soal kehidupan,
dapat melapangkan pikiran dan memelihara keortodokan agama.
Beberapa
komponen yang menjadi ciri aktifitas pembaharuan antara lain:
1. Baik
pembaharuan maupun modernisasi akan selalu mengarah kepada upaya perbaikan
secara simultan.
2. Perbaharuan
meniscayakan adanya pengaruh yang kuat ilmu pengetahuan dan teknologi.
3. Upaya
pembaharuan biasanya juga dilakukan secara dinamis, inovasi dan progresif sejalan
dengan perubahan cara berpikir seseorang.
B.
Sekilas Tentang Sejarah Pembaharuan Dalam Islam
Latar belakang munculnya pembaharuan pemikiran Islam di dalam
bidang agama, social dan pendidikan, dikarenakan terjadinya berbagai macam kemunduran
pada umat Islam ketika itu (dimulai dari abad ke 12) diantaranya:
1.
Krisis
dalam bidang social politik.
2.
Krisis
dalam bidang keagamaan.
3.
Krisis
dalam bidang pendidikan Islam dan ilmu pengetahuan.
Menurut Mahasri Shobiyah, pembaharuan tersebut meliputi seluruh
bidang kehidupan,yang pada intinya dapat dibedakan menjadi dua bidang utama
yakni:
1. Bidang Akidah dan Ibadah, memurnikan ajaran Islam (purikalisasi) dari
unsur-unsur asing.
2. Bidang Mu`amalah Dunyatariyah, upaya modernisasi atau pengembangan dalam aspek social, ekonomi, politik, budaya dan khususnya dalam bidang pendidikan.
2. Bidang Mu`amalah Dunyatariyah, upaya modernisasi atau pengembangan dalam aspek social, ekonomi, politik, budaya dan khususnya dalam bidang pendidikan.
Tokoh-tokoh pembaharuan Islam antara lain:
1.
Ibnu
Taimiyah (Turki, 1263-1328)
2.
Muhammad
Ibnu Abdul Wahab (Uyainah/S. Arabia, 1730-1791)
3.
Jamaluddin
Al-Afgani (Asadabad/Afganistan, 1838-1897)
4.
Muhammad
Abduh (Gharbiyah/Mesir, 1848-1905)
5.
Rasyid
Ridho (Suriah, 1865-1935)
6.
Muhammad
Ali Pasya (Mesir)
7.
Sultan
Ahmad III (Turki)
8.
Sultan
Mahmud II (Turki)
9.
Sayyid
Ahmad Khan (India, 1817-1898)
BAB
II
K.H. AHMAD
DAHLAN:
RIWAYAT HIDUP
SERTA AMAL DAN PERJUANGANNYA.
A.
Latar Belakang Keluarga
K.H.
Ahmad Dahlan lahir 1 Agustus 1869 di Kauman Yokyakarta, wafat 23
Februari 1923 di Karangkajen Yokyakarta Beliau merupakan putera keempat dari
tujuh bersaudara dari pasangan K.H. Abu Bakar dan Siti Aminah. Dilihat dari
silsilah keturunannya, K.H. Ahmad Dahlan merupakan keturunan kedua belas dari
Maulana Malik Ibrahim, yaitu salah seorang Walisongo yang merupakan penyebar
ajaran Islam di Jawa. K.H. Ahmad Dahlan mempunyai tujuh orang putera dan empat
orang istri. Istri pertama beliau bernama Siti Walidah yang akrab dipaling
dengan Nyai Dahlan adalah pendiri “Aisyah” dan juga termasuk salah satu
pahlawan Indonesia.
B.
Latar Belakang Pendidikan
K.H. Ahmad Dahlan tidak pernah mendapat pendidikan formal karena
pada saat itu banyak orang Islam melarang anak-anak mereka memasuki sekolah Gubernemen
(sekolah Belanda). Beliau belajar membaca dan menulis dari ayahanda, sahabat
dan saudara-saudara iparnya. Pada usia delapan tahun beliau telah dapat membaca
Al-Qur`an dengan lancar sampai khatam.
Ketika beranjak remaja K.H. Ahmad Dahlan mulai belajar dan membaca
buku-buku tentang Islam. Beliau belajar beberapa ilmu Islam dari beberapa guru
sehingga membentuk kepribadiannya yang arif dan pengetahuan agamanya yang luas.
Ketika remaja beliau berangkat ke Mekkah
untuk menunaikan ibadah haji. Kesempatan tersebut dipergunakan sebaik-baiknya
untuk menuntut ilmu agama.
Pada
tahun 1903 beliau kembali berangkat ke Mekkah dan menetap di sana selama lebih
kurang dua tahun untuk memperdalam imu fiqh dan ilmu hadis. Untuk ilmu
hadis belajar kepada Sayyid Babu al-Sijjil dan Syeikh Ahmad Khatib yang
juga merupakan guru K.H. Hasyim Asy`ari pendiri Nahdatul Ulama.
C.
Amal dan Perjuangan
K.H.
Ahmad Dahlan dikenal sebagai sosok seorang ulama yang sedikit berbicara tetapi
banyak beramal, sedikit berteori tapi banyak berbuat.
Beliau
mengajarkan anak muridnya untuk membaca surat al-Ma`un berulang-ulang sehingga
muridnya merasa bosan dan ahkirnya menyadarkan anak muridnya bahwa al-Qur`an
bukan sekedar untuk dibaca akan tetapi hendaknya diamalkan dalam wujud nyata.
Salah
satu contoh bentuk konkrit aplikasi dari makna surat al-Ma`un adalah gerakan
membangun panti asuhan bagi anak yatim dan menolong fakir mikin, yang di dalam
organisasi Muhammadiyah dikenal denagn sebutan “Gerakan al-Ma`un”.
Sebagai
seorang tokoh yang dikenal sebagai pembaharu pemikiran Islam di Indonesia,
pembaharuannya meliputi berbagai bidang, seperti:
1.
Bidang
Keagamaan
Kontribusi K.H. Ahmad Dahlan di
Bidang Keagamaan antara lain:
a. Memberantas
penyakit masyarakat Islam saat itu yakni, tahayul, bid`ah dan khurafat
b.Upaya
meluruskan arah kiblat
2.
Bidang
Pendidikan
a.Tenaga
pengajar agama/mengajar anak-anak yang menjadi murid ayahnya di Musholah
b. Mendirikan
sekolah Ibtidaiyah Diniyah Islamiyah pada 1 Desember 1911 (sekolah pertama
Muhammadiyah)
c. Mendirikan
sekolah guru: Madrasah Mu`alimin Muhammadiyah (Kweekschool Muhammdiyah)
dan Madrasah Mu`alimat Muhammadiyah
d. Mendirikan
Hazhul Wathon (organisasi kepanduaan pertama di Indonesia) pada tahun 1918
3.
Bidang
sosial politik
Dalam sejarah perjalanan hidupnya, K.H. Ahmad Dahlan pernah memasuki:
Dalam sejarah perjalanan hidupnya, K.H. Ahmad Dahlan pernah memasuki:
a.Organisasi
Budi Utomo yang merupakan organisasi nasional yang kemudian menjadi awal
kebangkitan semangat kebangsaan Indonesia.
b. Jumi`at
Khoir yaitu satu-satunya organisasi Islam yg mempunyai hubungan baik dengan negara-negara Islam saat itu.
c. Serikat
Islam (SI)
Ketiga organisasi diatas dimasuki
K.H. Ahmad Dahlan, disamping karena terdorong oleh rasa kebangsaan, juga karena
menurut pandangannya ketiganya dapat dijadikan wadah untuk menyampaikan
dakwahnya yang mengandung ide-ide
pembaharuan.
Selama aktif di
organisasi-organisasi tersebut ia sudah mulai melihat benih-benih ide yang akan
ia tanamkan mulai berkembang dan merasa perlu untuk mendirikan sebuah wadah
dalam bentuk organisasi untuk menghimpun
mereka yang memiliki ide yang sama dalam menjalankan perjuangannya. Atas dasar
pemikiran serta dorongan para murid serta teman-temannya maka pada tanggal 18
Nopember 1912 M/8 Dzulhijah 1330 H. K.H. Ahmad Dahlan mendirikan organisasi
yang dikenal dengan nama Muhammadiyah.
BAB III
STUDI KEMUHAMMADIYAHAN:
KAJIAN IDEOLOGIS DAN ORGANISATORIS
A.
Identitas Perjuangan Muhammadiyah
Muhammadiyah merupakan gerakan Islam dan dakwa amal ma`ruf nahi
munkar. Berakidah Islam dan bersumber pada al-Qur`an dan Sunnah. Muhammadiyah
juga dikenal sebagai gerakan Tajdid.
Maka dari perjuangan Muhammadiyah disebut sebagai gerakan Islam, Dakwah
dan Tajdid.
B.
Landasan Ideal Muhammadiyah
Maksudnya adalah landasan normatif bagi pelaksanaan dan aktifitas
Muhammadiyah, yang meliputi:
1.
Muqadimah
Anggaran Dasar Muhammadiyah
2.
Kepribadian
Muhammdiyah.
C.
Landasan Operasional Muhammdiyah
Yang
dimaksud landasan operasinal Muhammaddiyah adalah segala sesuatu yang dijadikan
pijakan persyerikatan Muhammadiyah dalam menjalankan aktivitas-aktivitas untuk
mencapai maksud dan tujuan.
Unsur-unsur
operasional tersebut adalah:
1.
AD/ART
Muhammadiyah
2.
Khitah
Perjuangan Muhammadiyah
3.
Visi
dan Misi Muhammadiyah
4.
Keputusan-keputusan
Muhammadiyah
BAB IV
MUHAMMADIYAH
DAN PENDIDIKAN
A.
Sejarah Pendidikan di Muhammadiyah
Pendidikan Muhammadiyah sudah lebih dari seratus tahun,. Lebih
tua dari usia pendidikan Nasional
Menurut Muhammadiyah, untuk lepas dari pasungan kemiskinan,
kebodohan, dan keterbelakangan yang memasung bangsa ini adalah melalui pendidikan.
Menurut pendiri Muhammdiyah, K.H.Ahmad Dahlan, upaya strategis untuk menyelamatkan umat Islam dari berpikir yang statis menuju pada pemikiran yang dinamis adalah melalui pendidikan.
Dan pendidikan hendaknya ditempatkan pada skala prioritas utama dalam proses pembangunan umat.
Menurut pendiri Muhammdiyah, K.H.Ahmad Dahlan, upaya strategis untuk menyelamatkan umat Islam dari berpikir yang statis menuju pada pemikiran yang dinamis adalah melalui pendidikan.
Dan pendidikan hendaknya ditempatkan pada skala prioritas utama dalam proses pembangunan umat.
Muhamaddiyah sebagai gerakan tajdid (reformasi) selalu
melakukan inovasi dan pembaharuan pendidikan ke arah positif dan pendidikan
yang diusungnya disesuaikan dengan perkembangan zaman. Hal tersebut menjadikan
pendidikan Muhammadiyah tetap eksis dan tak lekang oleh waktu
Inovasi dalam pendidikan bagi Muhammadiyah bukanlah sesuatu hal
yang mustahil tetapi harus terus dikembangkan selama inovasi tersebut tidak
melanggar prinsip-prinsip Islam.
B.
Karakteristik Pendidikan Muhammadiyah
Hadirnya Muhammadiyah memberikan angin pembaharuan bagi system
pendidikan di Indonesia. Sejak awal didirikan, Muhammadiyah menawarkan dua konsep pendidikan yaitu:
1.
Pendidikan
yang integralistik,
Sebelumnya, system pendidikan saat
itu memisahkan antara ilmu agama dan ilmu umum. Kemudian oleh K.H. Ahmad
Dahlan diintegrasikan menjadi suatu
kesatuan ilmu dalam suatu lembaga pendidikan. Sebagai salah satu implikasinya,
system pendidikan pesantren yang hanya sebatas mempelajari ilmu-ilmu agama yang
menekankan kepada penguasaan kitab-kitab klasik, kemudian dalam ssitemnya memasukkan pelajaran ilmu-ilmu umum. Begitupun sebaliknya, sekolah-sekolah modern kemudian
memasukkan ilmu-ilmu agama dalam pelajarannya.
Muhammadiyah ingin menyajikan pendidikan
yang dapat melahirkan manusia utuh dan seimbang kepribadiannya, tidak terbelah
menjadi manusia yang berilmu umum saja atau berilmu agama saja.
Dengan diintegrasikannya system tersebut maka
akan melahirkan manusia-manusia baru yang mampu tampil sebagai "ulama intelek" atau “intelek ulama" yaitu: seorang Muslim yang memiliki keteguhan iman dan
ilmu yang luas, kuat jasmani dan rohani.
2.
Pendidikan
yang progresif
Makna
progresif adalah “ke arah kemajuan”. Seperti pesan K.H. Ahmad Dahlan
sebelum beliau wafat, “Jadilah kyai yang maju, kemudian mengabdilah kepada
Muhammadiyah”
Dalam kontek pendidikan pesan tersebut sesungguhnya mengisyaratkan kepada kita bahwa K.H. Ahmad Dahlan menginginkan agar peserta didik kelak mengintegrasikan antara iman dan kemajuan, sehingga menjadi generasi Muslim terpelajar yang kuat iman dan kepribadiannya, sekaligus mampu menghadapi tantangan zaman.
Linda lintang 14 April 2015
Tidak ada komentar:
Posting Komentar